<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jurnalisme Akar Rumput</title>
	<atom:link href="http://korantempe.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://korantempe.wordpress.com</link>
	<description>esensi tanpa sensasi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Jun 2007 08:19:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='korantempe.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jurnalisme Akar Rumput</title>
		<link>http://korantempe.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://korantempe.wordpress.com/osd.xml" title="Jurnalisme Akar Rumput" />
	<atom:link rel='hub' href='http://korantempe.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kaum Marjinal Saat Warga Tak Mampu</title>
		<link>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/20/kaum-marjinal-saat-warga-tak-mampu/</link>
		<comments>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/20/kaum-marjinal-saat-warga-tak-mampu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jun 2007 08:19:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>korantempe</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://korantempe.wordpress.com/2007/06/20/kaum-marjinal-saat-warga-tak-mampu/</guid>
		<description><![CDATA[Indira Permanasari Yana (39) seperti tercekat. Warga Bambu Apus, Kabupaten Tangerang, Banten, ini bagai kehilangan perbendaharaan kata-kata begitu diajak berbicara soal pendidikan dan masa depan anak-anaknya. Nuraini (14), putri keduanya yang sudah menyelesaikan pendidikan setara SD di sebuah madrasah ibtidaiyah atau MI setahun lalu, hingga kini belum juga bisa melanjutkan ke sekolah menengah pertama atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=18&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#c0c0c0">Indira Permanasari</font></p>
<p class="MsoNormal">Yana (39) seperti tercekat. <span>Warga Bambu Apus, Kabupaten Tangerang, Banten, ini bagai kehilangan perbendaharaan kata-kata begitu diajak berbicara soal pendidikan dan masa depan anak-anaknya. </span>Nuraini (14), putri keduanya yang sudah menyelesaikan pendidikan setara SD di sebuah madrasah ibtidaiyah atau MI setahun lalu, hingga kini belum juga bisa melanjutkan ke sekolah menengah pertama atau sederajat. &#8220;Saya ngeri mendaftarkannya ke sekolah. Takut,&#8221; kata Yana. <span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jangankan bisa mendaftarkan anaknya, ijazah tanda kelulusan Nuraini dari sebuah madrasah pun hingga kini masih tertahan di sana. Yana dan suaminya, yang saat ini bekerja sebagai<span>  </span>penyapu jalan, belum juga mampu menebus ijazah anaknya. </span>Uang Rp 150.000 masih terlalu besar bagi keluarga ini.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-18"></span><span>Tahun lalu, Yana sebetulnya sempat bertanya ke satu SMP swasta tak jauh dari tempat tinggal mereka terkait biaya masuk. Ketika mendengar angka Rp 580.000 dan hanya dapat dicicil empat kali, Yana pun mundur teratur. </span>&#8220;Astagfirullah &#8230; duitnya dari mana? Tabungan? <span>Untuk hidup sehari-hari saja sulit, bagaimana mungkin punya tabungan,&#8221; kata Yana tanpa ekspresi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ia dan suaminya bukan tak sadar arti penting pendidikan, yang oleh para pakar di negeri selalu didengung-dengungkan sebagai sarana utama terjadinya mobilitas sosial. Buktinya, putri pertama mereka, Nuryani, sempat menamatkan sekolah menengah kejuruan (SMK) jurusan akuntansi. Itu dimungkinkan karena waktu itu sang ayah masih kerap diminta menjadi kernet truk dengan pendapatan Rp 50.000 sekali jalan. Saat ini, seiring usianya yang kian menua, sang ayah yang menjadi tonggak ekonomi keluarga itu cuma menjadi penyapu jalan. &#8220;Honor dari pemerintah per bulan sekitar Rp 450.000,&#8221; kata Yana, yang kini kian risau karena Nuryani pun tak kunjung dapat pekerjaan. </span></p>
<p class="MsoNormal">Lain lagi kisah Minatin (41). Wanita beranak lima ini nekat memasukkan anak-anaknya ke satu SMP swasta. <span>Padahal, ia hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan minuman dan kue-kue di rumah kontrakan mereka, sementara sang suami menjadi pengamen. </span>Penghasilan mereka praktis hanya cukup untuk bertahan hidup sehari- hari. Tak ada yang bisa ditabung.</p>
<p class="MsoNormal">Akan tetapi, karena kenekatan Minatin, tiga anaknya-dalam rentang waktu berbeda-pernah menikmati bangku SMP. <span>Namun, ketika tidak bisa mencicil uang gedung dan menunggak iuran bulanan, anak-anak itu pun satu per satu keluar dari sekolah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bahkan, anak keempatnya hanya bisa sampai di bangku kelas V SD. Adapun anak kelima mereka, yang telah berusia 6,5 tahun, hingga kini<span>  </span>belum juga didaftarkan ke SD. </span>Lupakan TK.</p>
<p class="MsoNormal"> Di wilayah pinggiran DKI Jakarta, institusi pendidikan dasar (SD/SMP sederajat) memang belum sepenuhnya membebaskan biaya pendidikan. Bahkan, banyak sekolah masih memungut <span>iuran bulanan (baca: sumbangan pembinaan pendidikan alias SPP), sekalipun mereka telah mendapat dana bantuan operasional sekolah (BOS) dari pemerintah pusat. Dana BOS yang digulirkan pemerintah sejak dua tahun lalu tersebut besarannya masing-masing Rp 254.000 per tahun bagi siswa SD dan Rp 354.000 per tahun bagi siswa SMP. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span>Di sejumlah sekolah, seperti SD Negeri Pondok Cabe Udik 03 Tangerang dan SD Negeri 03 Depok-untuk sekadar menyebut sedikit contoh-siswa baru masih dikenai &#8220;sumbangan</p>
<p class="MsoNormal">sukarela&#8221; sebesar Rp 200.000 hingga Rp 300.000. <span>Adapun di tingkat SMP, lebih besar lagi. SMP Negeri 1 Pamulang, misalnya, tahun lalu saja memungut sumbangan awal sekitar Rp 2 juta. Dan, itu semua belum termasuk iuran bulanan, uang buku paket, dan aneka kebutuhan mendadak lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Negeri jadi tumpuan</p>
<p class="MsoNormal"> Sementara di Ibu Kota, meski Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menggelontorkan dana tambahan untuk mendampingi BOS, yakni apa yang mereka namakan bantuan operasional pendidikan (BOP) untuk tiap siswa SD Rp 600.000 per tahun dan siswa <span>SMP Rp 1,2 juta per tahun, namun tak berarti semua sekolah akan meniadakan sama sekali berbagai pungutan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kendati demikian, bagi mereka yang bisa masuk sekolah negeri, paling tidak-kecuali di sekolah unggulan-biaya pendaftaran, pungutan awal tahun, dan iuran bulanan alias SPP </span>dipastikan tidak ada. Oleh karena itu, Haryanti (35) amat berharap putrinya, Hanifah (12), bisa diterima di SMP negeri. &#8220;Kalo die bisa sekolah dan terus hingga ke jenjang nyang lebih tinggi, entar die bisa dapat pekerjaan yang lebih bagus,&#8221; kata Haryanti, warga Betawi asli yang tinggal di rumah kontrakan di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan.</p>
<p class="MsoNormal">Padahal, bagi warga miskin, pendidikan masih diyakini menjadi tumpuan harapan bagi mereka untuk keluar dari lembah kemiskinan. <span>Agar kelak mereka hidup tidak hanya untuk hari ini saja. Jika harapan itu kandas, pendidikan yang seharusnya bisa mengangkat status sosial anak tidak mampu setara dengan anak dari keluarga berkecukupan, atau anak buruh asongan setara anak bankir, cuma ada dalam konsep-konsep muluk yang jauh dari realitas sehari-hari.  Pada kenyataannya, anak-anak kelas pekerja tetaplah anak-anak pekerja dan kelak akan menjadi pekerja, anak buruh akan menjadi buruh, dan anak penganggur sangat boleh jadi </span>kelak menjadi penganggur pula. Sungguh menyedihkan!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/korantempe.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/korantempe.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/korantempe.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/korantempe.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/korantempe.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/korantempe.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/korantempe.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/korantempe.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/korantempe.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/korantempe.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/korantempe.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/korantempe.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/korantempe.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/korantempe.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/korantempe.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/korantempe.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=18&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/20/kaum-marjinal-saat-warga-tak-mampu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b2db3aa0375ed13b912020e958d5b3a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">korantempe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hak Anak Atas Kota Ramah Anak</title>
		<link>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/hak-anak-atas-kota-ramah-anak/</link>
		<comments>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/hak-anak-atas-kota-ramah-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jun 2007 14:13:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>korantempe</dc:creator>
				<category><![CDATA[HUMANIORA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/hak-anak-atas-kota-ramah-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Neni Utami Adiningsih Pernahkah Anda melihat anak-anak yang menjadi pengemis, pengamen, pengelap kaca mobil, dan penjual asongan di perempatan jalan? Pernahkan Anda melihat anak-anak yang bermain layang-layang di jalan, bermain sepak bola di taman, atau bermain air di sungai yang kotor sesak oleh sampah? Pasti pernah. Sesungguhnya, sejak empat tahun lalu telah disahkan Undang-Undang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=17&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#c0c0c0">Oleh Neni Utami Adiningsih</p>
<p></font>Pernahkah Anda melihat anak-anak yang menjadi pengemis, pengamen,<br />
pengelap kaca mobil, dan penjual asongan di perempatan jalan?<br />
Pernahkan Anda melihat anak-anak yang bermain layang-layang di jalan,<br />
bermain sepak bola di taman, atau bermain air di sungai yang kotor<br />
sesak oleh sampah? Pasti pernah.</p>
<p>Sesungguhnya, sejak empat tahun lalu telah disahkan Undang-Undang<br />
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA). Namun, tidak<br />
bisa dipungkiri bila keberadaan UUPA belum terlalu berdampak terhadap<br />
perbaikan tumbuh-kembangnya anak.<br />
<span id="more-17"></span><br />
Secara alamiah, dunia anak adalah dunia belajar dan bermain, bukan<br />
dunia bekerja mencari uang. Melalui belajar, anak menggali ilmu untuk<br />
bekal bagi kehidupannya. Melalui bermain, anak mengembangkan<br />
kecerdasan intelektual, emosional, moral, dan spiritualnya. Juga untuk<br />
melatih kemampuan motoriknya, baik motorik kasar maupun motorik halus.</p>
<p>Ini berarti, untuk bisa disebut sebagai kota yang ramah anak, selain<br />
mempunyai kualitas lingkungan (air, udara) yang sehat dan bebas<br />
sampah, kota tersebut juga harus menyediakan institusi belajar dan<br />
lahan bermain yang memadai, baik dari segi kuantitas maupun segi kualitas.</p>
<p>Sayangnya, kian hari justru semakin sedikit saja jumlah institusi<br />
pendidikan berkualitas dan lahan kosong sebagai lahan bermain dan<br />
berolahraga bagi anak-anak. Kalaupun ada, sudah bernuansa bisnis yang<br />
harus membayar mahal, sehingga hanya sebagian kecil anak yang bisa<br />
mengaksesnya.</p>
<p>Bagaimana dengan keberadaan lahan bermain dan berolahraga? Jumlahnya<br />
juga kian terbatas. Itu sebabnya, anak-anak pun menggunakan taman,<br />
trotoar, bahkan badan jalan sebagai lahan bermain. Akibatnya, sering<br />
kita lihat tiba-tiba ada bola nyelonong ke tengah jalan yang kemudian<br />
diikuti oleh anak berlari mengejar bola tersebut. Atau anak-anak<br />
berlarian mengejar layang-layang yang putus. Kondisi ini sangat<br />
membahayakan keselamatan anak.</p>
<p>Tidak tertutup kemungkinan ia jatuh, bahkan tertabrak kendaraan. Belum<br />
lagi bila layang- layang itu tersangkut di jaringan kabel listrik.</p>
<p>Menanggapi hal di atas, sangat mendesak untuk mencuatkan konsep kota<br />
ramah anak. Menurut UNICEF Innocenti Research Center, yang dimaksud<br />
dengan kota ramah anak adalah kota yang menjamin hak setiap anak<br />
sebagai warga kota.</p>
<p>Secara global, hak anak telah disepakati dalam Konvensi Hak Anak<br />
(KHA/Convention on the Right of the Child). Bahkan dalam KHA Pasal 31,<br />
secara jelas diulas hak anak untuk terlibat dalam kegiatan bermain dan<br />
berekreasi. Indonesia telah meratifikasi KHA ini melalui Keputusan<br />
Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Ini berarti, ada indikasi pelanggaran<br />
hak anak bila pemerintah tidak menyediakan fasilitas bermain dan<br />
berolahraga bagi anak.</p>
<p>Neni Utami Adiningsih Pengagas Rumah Kreasi Anak (RUKREA)</p>
<p>http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/19/metro/3619369.htm</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/korantempe.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/korantempe.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/korantempe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/korantempe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/korantempe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/korantempe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/korantempe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/korantempe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/korantempe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/korantempe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/korantempe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/korantempe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/korantempe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/korantempe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/korantempe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/korantempe.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=17&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/hak-anak-atas-kota-ramah-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b2db3aa0375ed13b912020e958d5b3a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">korantempe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menembus Belantara demi Kebaikan Bersama</title>
		<link>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/menembus-belantara-demi-kebaikan-bersama/</link>
		<comments>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/menembus-belantara-demi-kebaikan-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jun 2007 13:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>korantempe</dc:creator>
				<category><![CDATA[HUMANIORA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/menembus-belantara-demi-kebaikan-bersama/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Maria Hartiningsih dan Ahmad Arif Sepuluh tahun bukan waktu panjang bagi perjalanan sebuah gagasan, tetapi juga bukan waktu yang pendek untuk membumikan cita-cita. Jargon menjadi usang ketika kerja menjadi yang utama. Sepuluh tahun juga merupakan proses transformasi. Proses itu tidak selalu mulus, karena terutama harus berhadapan dengan suatu keyakinan yang sudah berakar di dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=16&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#c0c0c0">Oleh Maria Hartiningsih dan Ahmad Arif<br />
</font><br />
Sepuluh tahun bukan waktu panjang bagi perjalanan sebuah gagasan,<br />
tetapi juga bukan waktu yang pendek untuk membumikan cita-cita. Jargon<br />
menjadi usang ketika kerja menjadi yang utama.</p>
<p>Sepuluh tahun juga merupakan proses transformasi. Proses itu tidak<br />
selalu mulus, karena terutama harus berhadapan dengan suatu keyakinan<br />
yang sudah berakar di dalam diri mengenai peran perempuan.<br />
<span id="more-16"></span><br />
Djuswati Zaenal (55) adalah perempuan &#8220;biasa&#8221; yang datang ke markas<br />
Suara Ibu Peduli (SIP) pada bulan Februari tahun 1998. Seperti banyak<br />
perempuan lain, niat ibu empat anak itu semata-mata mendapatkan susu<br />
dengan harga murah.</p>
<p>Di Megaria, Jakarta Pusat (&#8220;markas&#8221; SIP saat itu), ia berkenalan<br />
dengan para intelektual dan aktivis yang bekerja mengatasi persoalan<br />
ekonomi dan sosial warga, khususnya masyarakat kelas menengah bawah,<br />
saat krisis ekonomi melanda negeri ini tahun 1997.</p>
<p>&#8220;Saya jadi terbuka meskipun awalnya kaget juga,&#8221; ujar Bu Djuswati di<br />
sela-sela kesibukannya menyiapkan acara peluncuran buku Di Antara<br />
Belantara Jakarta: Pengalaman Kaum Ibu di Rempoa dan Cilandak Barat<br />
yang ditulis para ibu SIP.</p>
<p>Pertemuan itu membuat dia paham bahwa kesulitan ekonomi yang dialami<br />
keluarganya dan banyak keluarga lain bukanlah sesuatu yang apa adanya.<br />
Secara perlahan ia memahami bahwa &#8220;politik&#8221; bukan sesuatu yang abstrak<br />
di luar sana, melainkan sesuatu yang nyata dalam kehidupan sehari-hari<br />
di rumah, terutama dalam hubungan dengan suami dan anak-anak.</p>
<p>Ia juga melakukan &#8220;pembangkangan-pembangkangan&#8221; kecil. Ketika hendak<br />
mengirim nasi bungkus kepada mahasiswa sebagai tindakan mendukung<br />
reformasi, ia harus menunggu sampai suaminya pergi bekerja. Sekarang,<br />
sang suami mendukung penuh apa yang ia lakukan.</p>
<p>Kebaikan bersama</p>
<p>Bu Djuswati hanyalah satu dari ratusan ibu yang mengalami perubahan<br />
bersama SIP yang juga berkembang. Saat ini ia memimpin Presidium Usaha<br />
Mandiri dalam Perkumpulan SIP, bersama Bu Pujiwati di Presidium<br />
Pendidikan dan Bu Jumenti Komalasari yang akrab disapa sebagai Bu Ari<br />
di Presidium Administrasi dan Keuangan. Saat ini terdapat 24 kelompok<br />
SIP di 13 wilayah di Jakarta.</p>
<p>Seperti dikemukakan salah satu Dewan Penasihat Perkumpulan SIP,<br />
Karlina Supelli, kata &#8220;peduli&#8221; dipahami yang dipilih para pendiri SIP<br />
tahun 1998 memiliki alasan strategis politis, meski tidak mengemuka<br />
secara eksplisit karena situasi politik yang tidak memungkinkan waktu itu.</p>
<p>Namun, tuntutan SIP kepada pemerintah dan seruannya kepada masyarakat<br />
yang dibacakan di Bundaran Hotel Indonesia pada tanggal 23 Februari<br />
tahun 1998 menegaskan kegagalan pemerintah memenuhi hak-hak tersebut.</p>
<p>SIP mengkritisi dampak serius krisis ekonomi bagi kelanjutan<br />
pertumbuhan anak Indonesia, kelumpuhan sistem politik dan kebijakan<br />
ekonomi yang tidak adil serta praktiknya yang korup, dan merebaknya<br />
kekerasan di berbagai wilayah Indonesia.</p>
<p>Kini, kata &#8220;peduli&#8221; dipahami oleh ibu-ibu SIP sebagai kata kunci demi<br />
terciptanya kebaikan bersama (bonum commune), karena masyarakat<br />
berkeadilan tak bisa dimulai jika tidak ada kepedulian.</p>
<p>&#8220;Sadar atau tidak, ibu-ibu SIP pasca-1999 menerapkan pemahaman bahwa<br />
tatanan yang disebut adil dan beradab pertama-tama bukan karena ada<br />
hukum dan kebijakan, tetapi terutama karena ada pemahaman akan<br />
keutamaan yang membawa kebaikan bersama,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dengan itu, para ibu melanjutkan semangat awal SIP. Begitu dikemukakan<br />
Dr Toeti Herati, pemrakarsa SIP dan Dewan Penasihat Perkumpulan SIP.<br />
Maka perjalanan SIP boleh dikatakan sebagai perjalanan komitmen.</p>
<p>Para ibu bersama-sama belajar dengan landasan nurani yang bersih.<br />
&#8220;Seperti lingkaran sekolah hati,&#8221; kata Dinny Yusuf, salah satu anggota<br />
Dewan Penasihat SIP, yang bersama para ibu mengaku mengalami<br />
transformasi di dalam dirinya.</p>
<p>Namun, yang menarik barangkali adalah melihat SIP sebagai gerakan yang<br />
didefinisikan antropolog feminis Belanda, Saskia Wieringa (2000),<br />
sebagai sesuatu yang tidak statis dan merupakan proses yang terus<br />
dimodifikasi ketika bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari.<br />
Barangkali inilah yang menjelaskan mengapa para ibu SIP bekerja tanpa<br />
kenal lelah dalam situasi-situasi darurat seperti ketika terjadi<br />
banjir besar di Jakarta.</p>
<p>Sulit kader</p>
<p>Namun, ini juga yang sebenarnya tak mudah dipahami orang lain. Seperti<br />
dikemukakan Bu Ari, &#8220;Kami mengalami kesulitan dalam hal pengaderan<br />
karena banyak yang berpikir di sini ada gaji seperti di LSM lain,&#8221;<br />
ujar Bu Ari. &#8220;Padahal kami ini relawan, tak ada gaji.&#8221;</p>
<p>Bukan suatu kebetulan kalau para ibu ini sejak empat tahun lalu<br />
mengembangkan sistem ekonomi &#8220;tanggung renteng&#8221; yang telah berjalan<br />
selama puluhan tahun di Jawa Timur oleh Pusat Koperasi Wanita Jawa<br />
Timur (Puskowanjati).</p>
<p>Seperti dikemukakan Karlina, sistem ini bukan hanya merupakan kegiatan<br />
ekonomi, tetapi terutama mengembalikan sosialitas ke dalam transaksi<br />
ekonomi yang lenyap bersama sistem perekonomian modern. Agunannya<br />
tidak bersifat material, yang menjamin seseorang mendapat pinjaman,<br />
melainkan kepercayaan sosial (social trust), dalam hal ini kepercayaan<br />
kelompok. Proses penyadaran juga berlangsung di dalam<br />
kelompok-kelompok itu.</p>
<p>Anggotanya sekarang sekitar 600 orang, dengan proses awal yang tidak<br />
mudah, seperti menembus belantara. Namun, mereka pantang menyerah.<br />
Sekarang para ibu itu berhasil merangkul banyak pihak yang dulu<br />
memandang mereka dengan prasangka.</p>
<p>Dengan dana bergulir sekitar Rp 450 juta dan tunggakan nol persen,<br />
kata Bu Ari masih banyak yang ingin bergabung, tetapi harus menunggu<br />
dana tambahan. &#8220;Kami mengharapkan ada dana abadi supaya penerus fokus<br />
bekerja. Dana operasi kami hanya Rp 7 juta sebulan,&#8221; sambung Bu Djaswati.</p>
<p>Anda berminat membantu sambil ikut belajar bersama di &#8220;sekolah hati&#8221;?</p>
<p>http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/18/swara/3616526.htm</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/korantempe.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/korantempe.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/korantempe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/korantempe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/korantempe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/korantempe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/korantempe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/korantempe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/korantempe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/korantempe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/korantempe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/korantempe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/korantempe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/korantempe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/korantempe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/korantempe.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=16&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/menembus-belantara-demi-kebaikan-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b2db3aa0375ed13b912020e958d5b3a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">korantempe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vika Cikita, Putri Tukang Parkir yang Meraih Nilai UN Terbaik se-Sumbar</title>
		<link>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/vika-cikita-putri-tukang-parkir-yang-meraih-nilai-un-terbaik-se-sumbar/</link>
		<comments>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/vika-cikita-putri-tukang-parkir-yang-meraih-nilai-un-terbaik-se-sumbar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jun 2007 13:43:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>korantempe</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/vika-cikita-putri-tukang-parkir-yang-meraih-nilai-un-terbaik-se-sumbar/</guid>
		<description><![CDATA[Jum&#8217;at, 15-Juni-2007 Kerap Jalan Kaki dari Jati Rumah Gadang ke Sekolah. Kemiskinan sangat dekat dengan kebodohan. Tapi hal itu tak berlaku pada Vika Cikita, siswa SMA 1 Padang, yang ternyata anak seorang tukang parkir di kota ini. Vika mampu membuka mata siapapun, bahwa kemiskinan keluarganya bukan halangan baginya menggapai nilai fantastis di sekolah. Vika berhasil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=15&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jum&#8217;at, 15-Juni-2007<br />
Kerap Jalan Kaki dari Jati Rumah Gadang ke Sekolah. Kemiskinan sangat<br />
dekat dengan kebodohan. Tapi hal itu tak berlaku pada Vika Cikita,<br />
siswa SMA 1 Padang, yang ternyata anak seorang tukang parkir di kota<br />
ini. Vika mampu membuka mata siapapun, bahwa kemiskinan keluarganya<br />
bukan halangan baginya menggapai nilai fantastis di sekolah. Vika<br />
berhasil meraih nilai ujian nasional (UN) terbaik se-Sumbar.<br />
<span id="more-15"></span></p>
<p>Sebuah rumah kayu dan berlantai kayu di Jati Rumah Gadang No VII<br />
Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur, ternyata menyimpan mutiara.<br />
Jika berkunjung ke kediaman Ridwan dan Indrawati—orangtua Vika—memang<br />
cukup sulit menemukannya. Maklum, kita harus berjalan kaki ke lokasi<br />
yang disebut warga sekitar Jati Rumah Gadang itu. Rumah itu ditempeli<br />
stiker keluarga miskin. Tak ada ruang tamu. Hanya sebuah beranda<br />
dilengkapi tiga sofa usang. Jika anda tamu, di sofa usang itulah anda<br />
bisa melepas kepenatan. Ridwan dan Indrawati akan menyambut dengan<br />
senyuman. Tulus. Disusul kemudian Vika keluar dari kamar.</p>
<p>Di sinilah, Vika Cikita, 17 tahun, anak pertama Ridwan, tinggal dan<br />
belajar setiap hari. Vika menceritakan hampir setiap hari dia ke<br />
sekolah berjalan kaki. Jika ada ongkos dari bapaknya yang menjadi<br />
tukang parkir di kawasan Bioskop Raya Teather Padang, Vika terkadang<br />
tetap jalan kaki. Rute Vika jalan kaki ke sekolahnya di SMAN 1 Padang<br />
melalui jalan kecil tembus ke Universitas Dharma Andalas di Jalan<br />
Perintis Kemerdekaan, lanjut ke Jalan Sudirman melalui belakang rumah<br />
Gubernur, dan langsung menuju ke SMAN 1. Ukuran waktunya lebih kurang<br />
45 menit, bahkan satu jam perjalanan.</p>
<p>Walaupun berasal dari keluarga yang tak mampu, dari kecil Vika sudah<br />
terlihat cerdas. Itu berkat air susu ibunya. Sang ibu juga tak<br />
menyangka. Karena menurut Indrawati sejak kecil Vika makannya<br />
tidaklah yang mewah-mewah. Terpenting bernilai gizi, seperti tempe,<br />
tahu, telur, dan sayuran. Vika Cikita pun bukan tipe manja dan mudah<br />
berpatah arang. Cita-cita digengamnya kuat penuh semangat. Inilah<br />
pemicunya. Vika selalu berhasil membuktikan hal itu sejak SD dan SMP.<br />
Bahwa ia harus mampu membuat bahagia orangtuanya, walaupun tanpa<br />
merengek-rengek ikut les, seperti kebanyakan anak-anak berada.</p>
<p>“Bagaimana mau les, ke sekolah saja Vika berjalan kaki karena tidak<br />
ada ongkos. Walaupun begitu Vika tetap harus sekolah, karena dengan<br />
pendidikan itulah kita dapat mengangkat derajat kita,” ujar peraih<br />
peringkat pertama nilai UN tingkat Sumatera Barat ini kepada Padang<br />
Ekspres, sembari meletakkan segelas air putih.Kamu tentu sangat<br />
bahagia?</p>
<p>“Iya, Vika langsung sujud syukur pada Allah SWT saat mendengar<br />
pengumuman itu.Jujur, Vika tidak menyangka kalau Vika meraih<br />
peringkat satu UN. Karena, yang terpenting bagi Vika bagaimana Vika<br />
bisa lulus dengan nilai yang baik,” ujar Vika yang lantas membenahi<br />
jilbabnya.Yang membuat Vika was-was saat ini adalah apakah ia lulus<br />
dalam SPMB atau tidak nantinya dan biaya kuliahnya, walaupun begitu<br />
Vika sangat berharap ia dapat kuliah. Hal inilah yang menyebabkan<br />
orangtuanya mati-matian mengumpulkan uang agar ia bisa ikut bimbel<br />
SPMB.</p>
<p>Sederhana: Vika Cikita (kanan) bersama Ny Indrawati di rumahnya yang<br />
sederhana. Wali Kota Padang Fauzi Bahar (Insert) menyanggupi untuk<br />
memberi beasiswa bagi Vika hingga tamat.</p>
<p>“Hanya untuk mencari uang Rp250 ribu untuk bimbel SPMB, ayah Vika<br />
benar-benar harus banting tulang mencari uang. Makanya Vika<br />
benar-benar serius agar lulus, doakan ya, Kak,” tuturnya. Ketika<br />
masih kecil, Vika bercita-cita menjadi dokter karena ia ingin<br />
membantu orantuanya yang tak mampu. Ayah Vika berpropesi sebagai<br />
tukang parkir sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga.Tetapi setelah<br />
masuk ke bangku SMA, Vika mulai menyadari keadaannya. Keinginannya<br />
untuk masuk Fakultas Kedokteran terasa jauh dari dirinya. “Darimana<br />
uangnya, Kak, untuk biaya sekolah ini saja Vika dibantu oleh<br />
sekolah,. Jadi, tidak mungkin rasanya jika Vika mengikuti keinginan<br />
Vika.</p>
<p>Lalu Vika dianjurkan guru di sekolah untuk berkuliah di UNP dengan<br />
harapan agar Vika langsung menjadi guru.Makanya ketika ada program<br />
Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) Vika lalu memilih jurusan<br />
Fisika UNP.Tetapi sayang Vika tidak lulus di sana padahal untuk beli<br />
formulir PMDK saja Vika dibantu guru-guru,” keluhnya dengan mata<br />
berkaca-kaca.Ketika ditanya ke depan ia ingin memilih jurusan apa<br />
jika hendak kuliah Vika menjawabnya dengan bingung, bukan karena tak<br />
tahu jawabannya tetapi karena ia takut biayanya akan memberatkan<br />
orangtuanya.”Yang terpenting Vika ingin cari jurusan yang kuliahnya<br />
sebentar dan biayanya murah,” tukasnya.</p>
<p>Pergaulan Vika di Sekolah</p>
<p>Guru-guru di sekolah Vika mengaku, perilaku Vika sama sekali tak<br />
berbeda dari anak-anak lain. “Tidak ada minder sedikit pun berteman<br />
walau kadang ia tak jajan, tak terlihat ia mengeluh pada siapapun.<br />
Teman-temannya pun tak melihat sebelah mata pada Vika, mereka malah<br />
membantu Vika jika terlihat Vika belum makan atau jika ada<br />
acara-acara sekolah, tak segan-segan temannya membantu,” ujar Wakil<br />
Kepala Bidang Kesiswaan, Drs.Ramadansyah.</p>
<p>Alumni SMP 5 Padang ini memang sangat rendah hati sekali, walau<br />
banyak media yang ingin mewawancarainya.Ia tetap mengatakan bahwa ia<br />
takut dibilang terlalu diekspos karena ia belum apa-apa dibanding<br />
teman-teman lainnya. Bahkan, ia sangat menghargai teman-temannya yang<br />
selama ini membantunya. “Teman-teman Vika sering membantu Vika, jika<br />
Vika tidak ada uang jajan. Makanya, Vika tak ingin mengecewakan<br />
teman-teman,” tutur Vika. Saat mengetahui keberhasilan Vika, orangtua<br />
Vika senang tetapi tak terlalu kaget karena memang dari kecilnya Vika<br />
termasuk anak yang cerdas dan kreatif.</p>
<p>“Ketika kecil, Vika sering diundang menyanyi di pesta pernikahan atau<br />
acara-acara kelurahan. Dandanannya pun tak kalah dibanding<br />
penyanyi-penyanyi cilik lainnya.Tetapi, hobi Vika ini terhenti saat<br />
ia mulai SMP mungkin karena ia tahu keadaannya,” tutur ibu Vika,<br />
Indrawati (41).Ibu Vika sangat berharap agar ada pihak nantinya yang<br />
membantu biaya sekolah Vika. “Jujur, saya tak mampu membiayai kuliah<br />
Vika nantinya. Tapi, saya tak pernah mematikan harapan dan keinginan<br />
anak saya.Mudah-mudahan ada jalannya,” tutur Indrawati.</p>
<p>Wako Ulurkan Kasih</p>
<p>Saat berita ini ditulis, Padang Ekspres mendapat telepon dari Wali<br />
Kota Padang, Drs. Fauzi Bahar, M.Si. Subhanaullah, ternyata kabar<br />
luar biasa datang dari orang nomor satu di Kota Padang itu, Fauzi<br />
Bahar menyanggupi untuk membiayai kuliah Vika hingga ia tamat.<br />
“Dimanapun Vika nantinya kuliah, saya akan membiayainya hingga ia<br />
menamatkan kuliahnya. Silahkan Vika ingin kuliah di mana,” tegas<br />
Fauzi. (***)<br />
http://www.padangekspres.co.id/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=557</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/korantempe.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/korantempe.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/korantempe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/korantempe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/korantempe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/korantempe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/korantempe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/korantempe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/korantempe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/korantempe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/korantempe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/korantempe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/korantempe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/korantempe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/korantempe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/korantempe.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=15&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/vika-cikita-putri-tukang-parkir-yang-meraih-nilai-un-terbaik-se-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b2db3aa0375ed13b912020e958d5b3a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">korantempe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air Mata Guru: Kejujuran yang Dimusuhi</title>
		<link>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/air-mata-guru-kejujuran-yang-dimusuhi/</link>
		<comments>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/air-mata-guru-kejujuran-yang-dimusuhi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jun 2007 09:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>korantempe</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/air-mata-guru-kejujuran-yang-dimusuhi/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Susi Fitri Bagi seorang guru, tidak ada yang lebih membanggakan selain melihat murid-muridnya sukses. Bahkan, seorang guru honor yang bergaji Rp 100.000 sebulan (belum dipotong pajak) pernah mengatakan kepada saya, hanya dengan melihat muridnya sukses sudah bisa mengobati luka hatinya akibat penghargaan yang tak seberapa itu. Sebaliknya, tidak ada yang lebih memedihkan bagi seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=10&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#c0c0c0">Oleh Susi Fitri<br />
</font><br />
Bagi seorang guru, tidak ada yang lebih membanggakan selain melihat<br />
murid-muridnya sukses. Bahkan, seorang guru honor yang bergaji Rp<br />
100.000 sebulan (belum dipotong pajak) pernah mengatakan kepada saya,<br />
hanya dengan melihat muridnya sukses sudah bisa mengobati luka hatinya<br />
akibat penghargaan yang tak seberapa itu.<br />
Sebaliknya, tidak ada yang lebih memedihkan bagi seorang guru selain<br />
menyaksikan murid-muridnya gagal. Namun, ketika bertemu dan mendengar<br />
cerita dari guru-guru yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Guru<br />
dari Medan, dan banyak lagi cerita yang sama yang selama ini saya<br />
dengar dari organisasi-organisasi guru di beberapa tempat di<br />
Indonesia, saya jadi sadar bahwa ternyata ada yang lebih memedihkan<br />
hati seorang guru.<br />
<span id="more-10"></span><br />
Bisa dibayangkan, betapa tidak pedih hati seorang guru ketika<br />
mendengar murid-muridnya yang berbuat jujur malah dihina dan<br />
diperlakukan sedemikian rupa tidak ubahnya para penjahat. Peristiwa<br />
yang menimpa siswa SMK Duafa Nusantara ketika melaporkan adanya<br />
kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional (UN) yang mereka ikuti di<br />
SMK Negeri 5 Padang adalah salah satu contohnya.</p>
<p>Belum lagi pengalaman langsung guru-guru di Medan, yang tergabung<br />
dalam Komunitas Air Mata Guru, serta sejumlah guru di berbagai daerah<br />
di Tanah Air. Para guru yang membongkar kecurangan UN ini malah<br />
diejek, dituduh sok suci, diancam secara fisik (di-&#8221;Munir&#8221;-kan, ujar<br />
seorang guru), diturunkan atau ditunda kenaikan pangkatnya,<br />
diberhentikan, disesali oleh orangtua murid, dan dikecam oleh<br />
murid-murid sendiri yang mereka sayangi.</p>
<p>Saya memang bukan guru dari para guru-guru itu. Namun, sebagai dosen<br />
yang bekerja di institusi yang melahirkan guru, maka yang terbayang<br />
pada saya adalah nasib mahasiswi-mahasiswa saya nantinya. Bila saya<br />
mengidam-idamkan mereka kelak menjadi guru yang baik dan<br />
profesional—kejujuran dan keberanian termasuk di dalamnya—maka saya<br />
menyaksikan harga yang sangat mahal dan risiko yang begitu berat yang<br />
akan mereka tanggung hanya karena mereka mengungkapkan kebenaran dan<br />
berbuat jujur. Namun, tanpa itu semua, lantas apa artinya menjadi guru?</p>
<p>Dari kesaksian Komunitas Air Mata Guru dan banyak lagi guru-guru lain,<br />
kita jadi tahu bahwa kecurangan dalam UN bukanlah kecurangan yang<br />
kasuistik dan bukan pula kecurangan yang dengan gampang dikilah dengan<br />
alasan: &#8220;Ah, itu kan cuma pekerjaan oknum yang tidak bertanggung<br />
jawab.&#8221; Kilah semacam ini hanyalah cara pengecut untuk berkelit dari<br />
persoalan yang sebenarnya, yaitu persoalan yang bersarang dalam sistem<br />
pendidikan kita itu sendiri.</p>
<p>Konflik horizontal</p>
<p>Berbagai kebijakan dan wacana (discourse) pendidikan kita belakangan<br />
ini justru telah menimbulkan konflik horizontal di dalam masyarakat<br />
pendidikan. Konflik horizontal tersebut terjadi dalam wujud<br />
pertentangan di antara sesama guru (yang cemas kehilangan pekerjaan<br />
karena tekanan sekolah); guru dengan orangtua (yang cemas anaknya<br />
gagal); guru dengan murid (yang cemas dengan masa depannya); dan guru<br />
dengan kepala sekolah (yang ingin sekolah yang dipimpinnya mampu<br />
mengalahkan sekolah lain). Pertentangan lebih jauh menyangkut guru<br />
dengan kepala dinas pendidikan (yang ingin departemennya dianggap<br />
berprestasi); serta pertentangan guru dengan pimpinan daerah (yang<br />
ingin daerahnya dipandang nomor satu), dan seterusnya.</p>
<p>Guru kini terjebak di tengah- tengah konflik horizontal tersebut:<br />
antara mementingkan nama baik sekolah dan prestasi riil murid; antara<br />
menjaga konduite daerah dan profesionalisme kerja; antara keinginan<br />
membantu murid dan berbuat curang. Dan, semua itu tak lain dan tak<br />
bukan hanyalah ditujukan demi menjaga citra dan peringkat (ranking),<br />
yang saat ini sudah menjadi semacam berhala dalam pendidikan di negeri<br />
ini!</p>
<p>Pemberhalaan citra dan peringkat inilah yang memupuk dan melestarikan<br />
budaya persaingan dalam dunia pendidikan kita. Bukannya mendorong<br />
budaya kebersamaan dan kepedulian, wacana pendidikan kita saat ini<br />
justru dengan amat bersemangat mengelu-elukan budaya persaingan. Di<br />
mana-mana orang bicara atas nama &#8220;persaingan global, persaingan<br />
global, persaingan global&#8221;.</p>
<p>Kata-kata ini sekarang seperti mantra saja, seperti suara zikir di<br />
ujung tasbih. Kita tidak lagi menyadari bahwa budaya semacam ini lahir<br />
karena kebijakan pendidikan yang hanya mementingkan logika pasar.</p>
<p>Alhasil, terjadilah favoritisme pelajaran. Hanya pelajaran-pelajaran<br />
yang &#8220;laku&#8221; di pasar yang akan dianggap pantas menjadi pengetahuan dan<br />
karenanya hanya itu yang perlu diujikan. Maka, sains dianggap lebih<br />
penting daripada seni, matematika jadi lebih berharga daripada sikap<br />
terbuka pada keragaman dan kenisbian dunia, dan pelajaran bahasa dan<br />
sastra Indonesia direduksi menjadi tes-tes pilihan ganda. Inilah yang<br />
kita saksikan dalam kebijakan UN.</p>
<p>Mahasiswa-mahasiswi yang kelak menjadi guru seni, yang akan membantu<br />
kepekaan dan welas asih generasi mendatang, tidak jadi penting.<br />
Mahasiswa-mahasiswi yang kelak menjadi guru sejarah, yang mengajarkan<br />
berbagai kebiadaban dan kegemilangan masa lalu agar kita tidak jatuh<br />
pada kesalahan dan kebiadaban yang sama, malah dipinggirkan.<br />
Mahasiswa- mahasiswi yang kelak menjadi guru olahraga, yang membantu<br />
anak-anak kita untuk menjadi generasi yang sehat dan sportif, tidak<br />
dihargai.</p>
<p>Renungan bersama</p>
<p>Bila demikian jadinya, sebagai dosen yang berada di institusi yang<br />
melahirkan guru, saya bertanya kepada diri sendiri: apa artinya<br />
mengajarkan mereka berbagai ilmu pengetahuan yang membuat mereka<br />
menjadi profesional? Cukupkah segala macam ilmu tentang metode<br />
mengajar, pengayaan materi, berbagai disiplin evaluasi, hubungan<br />
dosen-mahasiswa yang egaliter, cita-cita tentang perubahan sosial, dan<br />
sebagainya, dan sebagainya? Ilmu mana yang bisa melindungi guru-guru<br />
dari kekuasaan yang semena-mena? Metode apa yang bisa menyelamatkan<br />
guru- guru dari penghinaan karena mengatakan yang benar? Evaluasi apa<br />
yang bisa diterapkan untuk mengukur hati nurani? Kurikulum apa yang<br />
bisa membuat mereka berani melawan ketidakadilan?</p>
<p>Saya sungguh gemetar ketika menyadari semua itu tidak ada dalam proses<br />
pendidikan mereka sebagai guru. Saya merasa ibarat menceburkan<br />
mahasiswi- mahasiswa saya ke laut yang dalam, tapi alih-alih<br />
mengajarkan mereka berenang, saya malah mengajarkan mereka berlari.</p>
<p>Maka, apa artinya kerja para dosen yang membangun kurikulum sedemikian<br />
rupa, yang tujuannya adalah membentuk guru yang memikirkan bangsa,<br />
bukan pasar? Di manakah relevansi kurikulum seni yang mengembangkan<br />
sikap berbangsa yang multikultur, kurikulum olahraga yang<br />
mengembangkan sikap sportif, kurikulum sejarah yang menggambarkan<br />
manis-pahitnya melahirkan Indonesia? Maka, apa pentingnya melahirkan<br />
guru yang mengembangkan potensi anak, jika pada akhirnya kita menjual<br />
mereka? Apa gunanya mengembangkan hubungan yang egaliter di kampus<br />
bila yang kuasa bisa menang dengan segala cara?</p>
<p>Namun, bila kritik dilemparkan kepada pengambil kebijakan, bila<br />
kejujuran diperdengarkan, maka paling halus mereka akan mengatakan,<br />
&#8220;Coba solusinya, dong!&#8221; Olala, bila semua kritik harus juga dengan<br />
solusi, apa kerja para pakar pemerintah yang telah kita bayar mahal<br />
dengan pajak rakyat itu? Untuk apa berbagai dewan atau komisi?<br />
Bukankah kepada kantong mereka sebagian penghasilan kita, kita<br />
serahkan lewat berbagai pajak? Bukankah segala lembaga legislatif,<br />
yudikatif, dan eksekutif punya segudang pakar yang seharusnya<br />
memikirkan solusi?</p>
<p>Lagi pula, bukankah kritik itu sendiri sebenarnya telah membantu<br />
mereka melihat adanya persoalan? Sudah ribuan kali teori leadership<br />
dan metodologi riset ilmiah mengatakan bahwa dengan menemukan masalah,<br />
pada dasarnya sebagian besar masalah sudah dipecahkan. Yang sering<br />
kali menghalangi pemecahan masalah justru ketidakmampuan dan<br />
ketidakmauan pimpinan untuk mengambil keputusan yang berani dan<br />
visioner. Dan, kita kini menyaksikan bahwa di tangan pimpinan yang<br />
lemah inilah anak-anak, orangtua, dan guru-guru kita dikorbankan di<br />
altar persaingan globalisasi.</p>
<p>Ujian nasional hanyalah sekrup kecil yang membangun altar itu, dan<br />
kini para korbannya telah diumumkan satu per satu. Harap dicatat, yang<br />
menjadi korban bukan saja yang tidak lulus, tetapi juga yang lulus.<br />
Mengapa? Itu tak lain karena keberhasilan mereka pada dasarnya<br />
hanyalah keberhasilan yang semu.</p>
<p>Bila sekarang tidak ada perubahan apa-apa, pada masa yang akan datang<br />
saya akan mendengar dan menyaksikan murid-murid saya sendiri yang<br />
bercerita di hadapan saya tentang nasib buruk, dilema, dan berbagai<br />
perlakuan tak pantas yang telah mereka terima sebagai guru. Sekarang<br />
pun, saya sungguh tidak sanggup membayangkannya&#8230;.</p>
<p>Susi Fitri Aktivis Pendidikan dan Dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan,<br />
Universitas Negeri Jakarta (FIP-UNJ)</p>
<p>http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/18/humaniora/3617503.htm</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/korantempe.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/korantempe.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/korantempe.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/korantempe.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/korantempe.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/korantempe.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/korantempe.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/korantempe.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/korantempe.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/korantempe.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/korantempe.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/korantempe.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/korantempe.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/korantempe.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/korantempe.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/korantempe.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=10&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/air-mata-guru-kejujuran-yang-dimusuhi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b2db3aa0375ed13b912020e958d5b3a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">korantempe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Warga Tak Mampu Khawatir Tak Bisa Sekolahkan Anak Mereka</title>
		<link>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/warga-tak-mampu-khawatir-tak-bisa-sekolahkan-anak-mereka/</link>
		<comments>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/warga-tak-mampu-khawatir-tak-bisa-sekolahkan-anak-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jun 2007 09:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>korantempe</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/warga-tak-mampu-khawatir-tak-bisa-sekolahkan-anak-mereka/</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Kompas &#8211; Bagi warga miskin di Jakarta dan sekitarnya, sekolah ibarat barang mewah. Terlebih ketika akan memasukkan anak-anak mereka ke sekolah baru, karena sebagai besar di antara mereka tak punya dana cadangan yang dapat disisihkan untuk pendidikan. Dihadapkan kondisi seperti itu, mendaftarkan anak ke sekolah menjadi semacam ritus yang amat menakutkan. Bagi warga miskin, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=9&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#c0c0c0">Jakarta, </font>Kompas &#8211; Bagi warga miskin di Jakarta dan sekitarnya, sekolah<br />
ibarat barang mewah. Terlebih ketika akan memasukkan anak-anak mereka<br />
ke sekolah baru, karena sebagai besar di antara mereka tak punya dana<br />
cadangan yang dapat disisihkan untuk pendidikan.<br />
Dihadapkan kondisi seperti itu, mendaftarkan anak ke sekolah menjadi<br />
semacam ritus yang amat menakutkan. Bagi warga miskin, lembaga<br />
pendidikan tidak bisa diharapkan banyak akan bisa mengubah masa depan<br />
anak- anak mereka.</p>
<p><span id="more-9"></span>Trisna Budiwarto (40), warga Petamburan, Jakarta Barat, termasuk yang<br />
menghadapi tahun ajaran baru dengan seorang anak yang harus<br />
melanjutkan ke sekolah menengah pertama tanpa tabungan sepeser pun.<br />
&#8220;Anak saya mau masuk SMP duitnya belum kelihatan. Jangankan tabungan,<br />
yang ada cuma tagihan,&#8221; ujarnya, Jumat (15/6).</p>
<p>Trisna lalu memperlihatkan tagihan rekening air selama beberapa bulan<br />
sebesar Rp 900.000 dan tunggakan rekening listrik tiga bulan. Dia<br />
berlangganan air bersih sewaktu masih bekerja di sebuah perusahaan<br />
kontraktor, beberapa tahun lalu.</p>
<p>Setelah kehilangan pekerjaan itu selama tujuh tahun, terpaksa Trisna<br />
bekerja sebagai pedagang air minum kemasan di Tanah Abang untuk<br />
menghidupi istri dan empat anaknya. Trisna berjualan pada malam hari<br />
dan istrinya saat siang hari.</p>
<p>Diliputi rasa waswas</p>
<p>Demikian pula Sumiati, warga Cilandak, Jakarta Selatan. Dia tidak<br />
punya tabungan sama sekali dalam bentuk apa pun. Anak tertuanya,<br />
Putera, baru saja lulus SD dan sudah waktunya melanjutkan ke SMP.</p>
<p>Dia memang belum tahu anaknya akan bersekolah di mana dan berapa biaya<br />
yang dikeluarkan. Sumiati masih menunggu dengan waswas hasil tes yang<br />
jadi syarat untuk masuk ke SMP negeri.</p>
<p>Akan tetapi, tetap saja dia harus menyiapkan sejumlah uang untuk buku<br />
pelajaran, seragam sekolah, peralatan tulis, bahkan sumbangan awal<br />
jika nanti terpaksa bersekolah di swasta.</p>
<p>Menyiapkan dana keperluan sekolah itu bukan perkara mudah bagi Sumiati<br />
yang hanya mengandalkan pendapatan suaminya sebagai kuli bangunan<br />
harian, dengan upah Rp 50.000 per hari. Uang itulah untuk kebutuhan<br />
sehari-hari empat anggota keluarga tersebut, termasuk uang kontrakan<br />
rumah petak yang mereka tempati saat ini. &#8220;Pernah dua minggu suami<br />
saya tidak ada pekerjaan sama sekali. Wah, jangankan untuk keperluan<br />
sekolah, makan saja bingung,&#8221; katanya.</p>
<p>Mereka sesungguhnya sudah paham akan arti penting bersekolah.<br />
Setidaknya, berpandangan melalui sekolah ada harapan agar masa depan<br />
anak-anaknya akan lebih baik dan kemudian dapat membantu keluarga.</p>
<p>Trisna dan Sumiati, misalnya, berupaya sedapat mungkin agar anak<br />
mereka terus bersekolah. Biasanya, jika ada kebutuhan biaya sekolah<br />
yang benar-benar mendesak, mereka mencari pinjaman. &#8220;Kalau enggak<br />
dapat, minta ke sekolah agar bisa mencicil atau nunggak dulu. Setelah<br />
itu, uang dapur dikurangi sedikit- sedikit. Ya, yang penting ada nasi<br />
aja,&#8221; kata Sumiati. (ine)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/korantempe.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/korantempe.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/korantempe.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/korantempe.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/korantempe.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/korantempe.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/korantempe.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/korantempe.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/korantempe.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/korantempe.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/korantempe.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/korantempe.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/korantempe.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/korantempe.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/korantempe.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/korantempe.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=korantempe.wordpress.com&amp;blog=1245122&amp;post=9&amp;subd=korantempe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://korantempe.wordpress.com/2007/06/19/warga-tak-mampu-khawatir-tak-bisa-sekolahkan-anak-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b2db3aa0375ed13b912020e958d5b3a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">korantempe</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
