Juni 20, 2007 oleh korantempe
Indira Permanasari
Yana (39) seperti tercekat. Warga Bambu Apus, Kabupaten Tangerang, Banten, ini bagai kehilangan perbendaharaan kata-kata begitu diajak berbicara soal pendidikan dan masa depan anak-anaknya. Nuraini (14), putri keduanya yang sudah menyelesaikan pendidikan setara SD di sebuah madrasah ibtidaiyah atau MI setahun lalu, hingga kini belum juga bisa melanjutkan ke sekolah menengah pertama atau sederajat. “Saya ngeri mendaftarkannya ke sekolah. Takut,” kata Yana.
Jangankan bisa mendaftarkan anaknya, ijazah tanda kelulusan Nuraini dari sebuah madrasah pun hingga kini masih tertahan di sana. Yana dan suaminya, yang saat ini bekerja sebagai penyapu jalan, belum juga mampu menebus ijazah anaknya. Uang Rp 150.000 masih terlalu besar bagi keluarga ini.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam PENDIDIKAN | Leave a Comment »
Juni 19, 2007 oleh korantempe
Oleh Neni Utami Adiningsih
Pernahkah Anda melihat anak-anak yang menjadi pengemis, pengamen,
pengelap kaca mobil, dan penjual asongan di perempatan jalan?
Pernahkan Anda melihat anak-anak yang bermain layang-layang di jalan,
bermain sepak bola di taman, atau bermain air di sungai yang kotor
sesak oleh sampah? Pasti pernah.
Sesungguhnya, sejak empat tahun lalu telah disahkan Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA). Namun, tidak
bisa dipungkiri bila keberadaan UUPA belum terlalu berdampak terhadap
perbaikan tumbuh-kembangnya anak.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam HUMANIORA | Leave a Comment »
Juni 19, 2007 oleh korantempe
Oleh Maria Hartiningsih dan Ahmad Arif
Sepuluh tahun bukan waktu panjang bagi perjalanan sebuah gagasan,
tetapi juga bukan waktu yang pendek untuk membumikan cita-cita. Jargon
menjadi usang ketika kerja menjadi yang utama.
Sepuluh tahun juga merupakan proses transformasi. Proses itu tidak
selalu mulus, karena terutama harus berhadapan dengan suatu keyakinan
yang sudah berakar di dalam diri mengenai peran perempuan.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam HUMANIORA | Leave a Comment »
Juni 19, 2007 oleh korantempe
Jum’at, 15-Juni-2007
Kerap Jalan Kaki dari Jati Rumah Gadang ke Sekolah. Kemiskinan sangat
dekat dengan kebodohan. Tapi hal itu tak berlaku pada Vika Cikita,
siswa SMA 1 Padang, yang ternyata anak seorang tukang parkir di kota
ini. Vika mampu membuka mata siapapun, bahwa kemiskinan keluarganya
bukan halangan baginya menggapai nilai fantastis di sekolah. Vika
berhasil meraih nilai ujian nasional (UN) terbaik se-Sumbar.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam PENDIDIKAN | Leave a Comment »
Juni 19, 2007 oleh korantempe
Oleh Susi Fitri
Bagi seorang guru, tidak ada yang lebih membanggakan selain melihat
murid-muridnya sukses. Bahkan, seorang guru honor yang bergaji Rp
100.000 sebulan (belum dipotong pajak) pernah mengatakan kepada saya,
hanya dengan melihat muridnya sukses sudah bisa mengobati luka hatinya
akibat penghargaan yang tak seberapa itu.
Sebaliknya, tidak ada yang lebih memedihkan bagi seorang guru selain
menyaksikan murid-muridnya gagal. Namun, ketika bertemu dan mendengar
cerita dari guru-guru yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Guru
dari Medan, dan banyak lagi cerita yang sama yang selama ini saya
dengar dari organisasi-organisasi guru di beberapa tempat di
Indonesia, saya jadi sadar bahwa ternyata ada yang lebih memedihkan
hati seorang guru.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam PENDIDIKAN | Leave a Comment »
Juni 19, 2007 oleh korantempe
Jakarta, Kompas – Bagi warga miskin di Jakarta dan sekitarnya, sekolah
ibarat barang mewah. Terlebih ketika akan memasukkan anak-anak mereka
ke sekolah baru, karena sebagai besar di antara mereka tak punya dana
cadangan yang dapat disisihkan untuk pendidikan.
Dihadapkan kondisi seperti itu, mendaftarkan anak ke sekolah menjadi
semacam ritus yang amat menakutkan. Bagi warga miskin, lembaga
pendidikan tidak bisa diharapkan banyak akan bisa mengubah masa depan
anak- anak mereka.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam PENDIDIKAN | Leave a Comment »